Feeds:
Tulisan
Komentar

Pindah Alamat Blog

Teman-teman, berkenaan dengan semakin banyaknya hal yang perlu saya tulis serta untuk memudahkan pembaca menggunakannya, maka saya pindahkan pengelolaan blog ini ke dalam bentuk web. Silakan klik www.gurupembaru.com untuk melanjutkan menambah informasi pendidikan yang teman-teman perlukan.

Atas kunjungan teman-teman saya ucapkan terima kasih.

Jayapura, 6 Desember 2008

Hari itu saya mendapat kesempatan pertama menikmati pemandangan Papua.  Pada pagi hari ketika sejenak terlelap, tiba-tiba di ujung pulas tidur matahari telah bersinar benderang. Salah hitung dikira masih jam 3 pagi karena di tangan masih melekat waktu Jakarta, jadi solat subuh menggunakan waktu Jakarta juga, malu…dengan matahari.

Memasuki Biak di pagi hari, Papua menyajikan keindahannya yang khas. Pantai pasir putih dan laut yang jernih. Pantai yang indah itu meningkat ke daratan yang berbatasan dengan tebih yang curam, dan daratan yang bergelombang. Pemandangan daratan bergelombang itu makin jelas wujudnya sampai Jayapura. Menjelang  Danau Sentani yang tenang membelah celah gunung yang bergunduk-gunduk dengan jumlah puncaknya sulit terhitung. Indahnya kecuraman gunung yang mengujam laut mengingatkan eloknya pemandangan sekitar Hongkong. Cuma kesempitan lahan orang Hongkong telah membuat betah orang-orang bermata sipit. Sedangkan kegelapan hutan Papua melahirkan orang-orang keriting, dan hitam manis…..

SMA Negeri 3 Papua ada di atas danau Sentani, sekitar setengah jam perjalanan dari Bandara Sentani atau sekitar 20Km dari Jayapura. Sebuah sekolah berasrama. Siswanya berbaur antara siswa keturunan papua dan pendatang, berbaur pula yang sholat dan yang ke Gereja.

Sekolah rintisan SMA bertaraf internasional berindikator menara dan piring parabola visat dengan aliran listrik katanya sering putus. Jadi bintek di sini digetarkan dengan bisingnya suara mesin disel di samping aula tempat kami berkumpul. Internet dapat dinikmati siswa sebagai sumber belajar. Lima guru MIPA pada tahun pelajaran lalu mengikuti pelatihan di Australia selama tiga bulan.  Dan, …..dengan keberangkatan rombongan itu sekolah menjadi kelimpungan karena guru utama pergi  semua. Jadi karena itu, denyut pembaharuan pembelajaran belum dimulai tahun lalu.

Penggunaan bahasa Inggris kalau di Pemalang dan di Pekalongan saya dengar pada sesi tanya jawab dilontarkan oleh para siswa, maka di sini di Papua pertunjukan yang baik itu tidak saya dengar. Belum banyak kemajuan yang sekolah pamerkan dalam kunjungan singkat ini. Kata guru-guru, kalau di Australia mereka bisa bahasa Inggris, pulang ke sini sedikit demi sedikit kemampun itu berkurang karena bahasa Inggris tidak biasa dipakai. Sayang sekali.

Pembahasan masalah dalam bimtek adalah sikap pandang sebagian teman-teman guru yang menggunakan logika seharusnya kami menikmati kesejahteraan keuangan yang lebih banyak dari pemerintah jika pemerintah ingin mutu pendidikan meningkat, apalagi sekolah bertaraf internasional, maka gajinya juga harus bertaraf internasional. Lalu ketika saya bergurau tentang sertifikasi guru, lalu saya tanya apakah di sini ada yang sudah menerima, sontak teman guru yang lain menunjuk yang bicara itu yang sudah terima dana sertifikasi guru. Gurauan saya lanjutkan, apakah dana itu telah meningkatkan kinerja Bapak? Beliau jawab, belum Pak , sebelum  mutu kompetensi meningkat uangnya sudah habis lagi. Jadi …tak adalah peningkatan.

Dalam pertemuan semua guru hadir, mereka sangat antusias ingin meningkatkan mutu pendidikan melalui penerapan delapan standar. Contohnya melalui penyediaan buku bacaan berbahasa Inggris. Ada usul menarik dari wakil ketua Komite Sekolah yang pada saat itu hadir. Menurut penjelasannya,  India menyepakati kerja sama dengan penerbit dari Amerika untuk menerbitkan buku mata pelajaran. Pencetakannya tidak dilakukan di Amerika namun di India sehingga pelajar India menikmati buku-buku Amerika dengan harga India. Sebuah usul yang bagus agar Depdiknas juga berinisiatif untuk melakukan hal yang sama. Namun yang tidak saya ungkapkan bahwa pada tahun 2006 lalu, 100% sarjana India fasih berbahasa Inggris sehingga buku berbahasa Inggis laku untuk anak SMA. Apa anak SMA di Papua membutuhkan buku seperti itu?  Oleh karena itu, saya katakan, sebelum kerja sama seperti itu dapat diwujudkan, ada baiknya menyusun program dulu di sini untuk meningkatkan intensifikasi membaca informasi yang dibutuhkan dari internet.

Dalam pertemuan singkat di awal sebelum pelaksanaan bimtek, kepala sekolah menunjukan sebuah buku Kimia terbitan Cambrigde dar lemarinya. Katanya hal seperti ini yang sesungguhnya kita butuhkan. Jadi perpustakaannya masih terlalu banyak mengoleksi bahasa Indonesia daripada bahasa Inggris bagi sebuh sekolah yang dicanangkan untuk menjadi sekolah R-SMA-BI.

Sebelum pulang saya berkeliling sekolah yang letaknya jauh dari perumahan masyarakat. Di tempat yang tinggi ini belum banyak indikator bertaraf internasional saya dapatkan. Sempat saya ingatkan, jika tidak ada indikator yang secara nyata memamerkan mutu bertaraf internasioal, bisa memeroleh predikat tambahan, yaitu BR-SMA-BI. Yaitu bekas rintisan SMA bertaraf internasional.

Semoga sekolah yang baik itu  dapat mewujudkan cita-citanya yang luhur, jangan sampai luruh. Menjadi sekolah negeri berasrama terbaik di Jayapura. Be diffrent, more better. They can translate best purpose to the small activity at daily life. Bravo Papua.

Jumat, 25 Oktober 2008

Ada dua agenda kegiatan hari ini yang saya ikuti yang sama-sama mengkaji bagaimana mutu pendidikan ditingkatkan. Agenda pertama adalah memberikan pengarahan kepada tim perencana pembentuk tim pengembang kurikulum di Kota Bogor. Kedua menyampaikan materi bimbingan teknis untuk program rintisan SMA bertaraf internasional di Direktorat Pembinaan SMA di Cipete Jakarta.

Pada agenda pertama saya menyampaikan kerangka pikir pengembangan kurikulum dari mulai identifikasi filosofi, landasan legal, oprasional manajemen, dan indikator kinerja yang akan dikembangkan menjadi instrumen evaluasi pada tiap langkah kegiatan.

Secara filosofis kurikulum itu harus mencerminkan kapasitas potensi diri siswa yang meliputi aspek kapasitas intelektual dan motivasi belajarnya sehingga siswa dapat menampilkan potensi daya saingnya dalam menghadapi berbagai masalah dalam kehidupannya. Para pengembang diharapkan memiliki persepsi yang sama tentang konstruksi manusia seperti apa yang menjadi cita-citanya untuk dikembangkan, materi apa yang harus diberikan dan dengan cara bagaimana memberikannya.

Undang-undang sistem pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2005 menjawab tantangan itu dengan menegaskan pentingnya mengembangkan suasana dan proses belajar yang dapat membangun peluang siswa mengembangkan diri secara aktif potensi dirinya. Suasana yang diharapkan itu adalah yang memberi kesenangan kepada siswa untuk mengembangkan potensi kecerdasannya dan motivasinya sehingga memiliki daya juang untuk belajar.

Pengembangan kecerdasan yang membangun manusia Indonesia yang cerdas adalah menjadi harapan yang digariskan undang-undang namun hingga saat ini pengelola pendidikan belum membangun pengakuan secara tegas apakah kita telah melaksanakan amanat undang-undang atau malah kita tidak tunduk pada aturan itu.

Masalahnya ialah kita belum memetakan kriteria teknis mengembangkan kecerdasan siswa secara sistematis. Ruang lingkup pengembangan kecerdasan dalam penyelenggaraan pengajaran belum jelas tersusun. Hal ini terbukti dalam konstruksi rencana pelaksanaan belajar yang disusun oleh guru-guru SMA masih jauh dari kriteria teori yang ada. Selama ini guru-guru menggunakan paradigma Bloom dalam memetakan konstruksi pikiran kritis siswa dari mulai mengingat sampai pada evaluasi pada ranah kognitif.

Pemetaan itu tidak pernah mendapat perhatian serius di sekolah. Apakah pendidik telah mengembangkan proses pembelajaran sampai berhasil mengembangkan potensi berpikir siswa sampai pada daya analisis, sintesis dan ealuasi. Karena penyuelenggaraan audit atau supervisi pendidikan dalam kelas pada umumnya tidak berjalan sesuai dengan kriteria, sekolah pada umumnya tidak memiliki standar yang terukur dalam melaksanakan supervisi maka pada umumnya sekolah tidak mengetahui dengan jelas tingkat pencapaian guru dalam menjaga mutu dalam mengembangkan kapasitas berpikir kritis siswa.

Dalam soal mengembangkan kriteria teknis mengembangkan kapasitas berpikir siswa juga sangat jelas terlihat pada indikator yang pendidikan kembangkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran di banyak sekolah. Indikator pembelajaran pada berbagai bidang studi tidak memenuhi kriteria pada model-model berpikr yang teorinya terus berkembang seperti Multiple Intellegence hasil pemikiran Goleman, atau model yang dikembangkan oleh Meyer Briggs yang mengembangkan model berpikir intuitif dan sensing.

Dalam diskusi tentang pengembangan tim masih didapatkan interaksi pada pembicaraan mengenai unsur-unsur dasar yang tidak terekam sehingga dari dulu sampai sekarang dalam setiap forum diskusi itu memiliki rujukan apa yang sudah dikembangkan sebelumnya, dan apa yang harus dilakukan ke depan. Kita berputar dan bolak balik di landasan sehingga tidak pernah terbang.

Menghayati materi dan prosedur yang ditempuh dalam diskusi ini membangun kesadaran dan pemikiran bahwa dalam penyelenggaraan otonomi daerah itu sangat tidak terdukung oleh tim ahli yang cakap untuk mengembangkan kurikulum yang cerdas. Sementara pemerintah berpersepsi orang-orang daerah itu seharusnya berdaya….

Agenda kedua, menyampaikan materi bahan bimbingan teknis untuk meningkatkan kinerja program rintisan SMA bertaraf internasional. Forum ini terselenggara dengan mengembangkan model diskusi yang sangat aktif dan interaktif.

Ada beberapa pokok pikiran yang dikemukakan oleh Direktur Pembina SMA di ataranya bimbingan teknis ini penting sebagai forum pertemuan untuk menagih janji pemerinatah daerah provins maupun kabupaten kota. Pada saat program ini digulirkan mereka telah berkomitmen untuk memfasilitasi program ini. Komitmen itu tidak dapat ditunjukan oleh semua daerah. Beberapa daerah tidak menunjukan itikadnya untuk mewujudkan komitmen itu. Yang tidak mewujudkan komitmen itu artinya melanggar undang-undang.

Pemikiran lain yang beliau tegaskan adalah dana block grant R-SMA-BI akan diberikan selama 5 tahun kepada sekolah yang berkomitment dan menunjukan kinerjanya dengan baik. Artinya meningkatkan efektivitas kinerjanya sesuai dengan kriteria pada standar nasional pendidikan. Sekolah yang tidak memenuhi kriteria mutu yang dipersyaratkan dalam program, sebelum mencapai 5 tahun pun harus berhenti mendapat bantuan.

Untuk itu diperlukan supervisi. Lihat sekolah secara menyeluruh. Perhatikan perkembangannya. Jika ada hal yang masih belum sesuai dengan harapan atau menyimpang dari jalur yang tepat untuk mencapai tujuan, maka lakukan perbaikan bersama-sama.

Ditegasnya pula bahwa penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional jangan dibiaskan dengan kewajiban untuk merapkan standar ISO, Cambrige, Harvard, atau IBO. Itu penting dan baik, namun jauh lebih penting lagi memahami bagaimana standar nasional pendidikan itu diterapkan untuk mengingkatkan mutu hasil belajar siswa sehingga lulusan SMA di tanah air ini dari mana pun akan memiliki mutu yang sama sehingga dapat melanjutkan ke mana pun. Jadi jangan salah bahwa RSBI bukan menyiapkan lulusan SMA untuk melanjutkan ke luar negeri, namun supaya mereka kompetitif di mana pun, di dalam atau ke luar negeri.

Soal mau ke mana siswa melanjutkan, itu menyangkut keputusan yang berbeda. Tidak menjadi kewenangan pengelola RSBI.

Selama dua hari tanggal 13 dan 14 Oktober saya mengikuti kegiatan pelatihan calon auditor ISO pada lingkungan Direktorat Pembinaan SMA di Bogor. Saya bersyukur penantian yang lama untuk memahami bagaimana ISO diimplementasikan tercapai juga. Alhamdulillah.

Setelah mengikuti pelatihan saya dapatkan tambahan pengetahuan. Pertama, ISO tidak akan berprakarsa membimbing organisasi mempertajam intuisi untuk membangun inspirasi baru mengenai bagaimana lembaga dan orang-orang meningkatkan mutu. Prakarsa itu harus datang dari kecerdasan lembaga secara internal.

Prakarsa mengembangkan mutu harus tetap berporos pada visi dan pimpinan lembaga yang visioner dan menjadi praktisi yang handal sehingga dapat menerjemahkan visi pada aksi-aksi yang cerdas.

Aksi cerdas itu menurut ISO harus direncanakan, diterapkan, diaudit, dan kalau ada yang berpotensi menyimpang segera lakukan perbaikan.

Dalam menerapkan empat macam prosedur itu diperlukan tim kerja yang pimpin langsung oleh pimpinan lembaga. Di sekolah pasti kepala sekolah. Karena kepala sekolah sering kurang konsentrasi pada mutu, apalagi kalau terancam kena degradasi, maka yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana menjalin komunikasi dan berpartisipasi pada pusat kekuaaan politik, maka dalam lembaga harus ada orang yang pekerjaan sehari-harinya memelihara dan menjaga agar mutu yang direncanakan dapat diwujudkan.

Di bawah wakil manajemen mutu ini definisi mutu dikembangkan, sasaran dan target mutu disusun dan ditulis. Prosedur untuk mewujudkan mutu itu dibuat dan disahkan. Pendeknya semua hal harus ditulis sehingga jadilah kaidah ISO, menuliskan apa yang dikerjakan dan mengerjakan apa yang ditulis.

Sebetulnya, perkara mengadopsi ISO itu mudah. Definisi mutu tinggal mengadopsi dari standar nasional pendidikan. Semua bisa diadopsi. Jika tidak sanggup semua pilih mana yang menjadi prioritas dulu. Yang dapat dilakukan, yang paling berpengaruh pada peningkatan mutu kinerja belajar siswa. Yang paling mungkin memperoleh dukungan biaya, sarana, dan sumber daya manusia.

Buat administrasi untuk mencatat, sebetulnya tidak harus persis sama dengan seluruh kaidah yang ISO terbitkan, asal dapat mencatat apakah prosedur yang telah ditetapkan itu dilaksanakan atau tidak. Jika tidak bisa dikerjakan maka carilah penyebabnya. Lalu perbaiki. Jadi catatan itu membantu agar kita konsisten dan persisten.

Jadi yang paling penting kalau kita mau mengadopsi ISO. Harus konsisten untuk mengubah budaya bicara ke budaya mencatat. Dari budaya percaya ke budaya fakta, ada dokumen sesuai dengan rencana.

Mudah, tapi dukungan budaya data di sekolah harus kita kembangkan dulu. Melalui komitment kita mengubah kultur dengan janji. Saya siap…..saya konsisten, dan kalau mau tahu tidak usah saya katakan, tetapi silakan anda lihat apakah pekerjaan saya memenuhi kriteria yang telah ditetapkan atau tidak.

Menerapkan ISO itu menerapkan kriteria yang kita sepakati bersama. Selamat mencoba dulu, jika punya uang silakan membelinya.

Dr. Rahmat
15 Juli 2008


Dalam Millis SMA Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) terungkap bahwa banyak sekolah menghadapi kesulitan dalam menerapkan sistem kredit semester (SKS) sesuai dengan amanat undang-undang sistem pendidikan nasional. Yang menjadi kendala ialah terbatasnya pemahaman tentang penerapan SKS dalam pengelolaan kurikulum di sekolah.

Dasar

Pendidikan nasional bertujuan untuk memanusiakan manusia Indonesia. Dalam mewujudkan tujuan filosofis itu Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (USPN) No.2 tahun 1989 merumuskan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkankan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia, bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Sejalan dengan perubahan paradigma penyelenggaraan pendidikan rumusan itu disempurnakan pada USPN No. 20 tahun 2003 yaitu pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik. Lanjut Baca »

Dr. Rahmat, M.Pd.

Kecerdasan, Keimanan, dan Martabat

Ada tiga isu strategis dalam pengelolaan sekolah yaitu bagaimana sekolah dapat (1) membentuk watak dan (2) peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka (3) mencerdaskan kehidupan bangsa. Watak seperti apa yang seharusnya menjadi outcomes sehingga melahirkan model kehidupan bangsa yang lebih cerdas? Bagaimana sekolah merealisasikan mimpi sebagai pembentuk watak yang menjadi landasan perkembangan peradaban bangsa?

Realitas itu mengandung konsekuensi lembaga pendidikan perlu merumuskan strategi dalam menghadapi tiga tantangan utama. Pertama, merumuskan visi mengenai watak kecerdasan seperti apa yang menjadi pola hidup yang hendak siswa miliki. Kedua, mengembangkan watak kecerdasan yang mengarah pada pola kehidupan ideal. Ketiga, melatih pengembangan kompetensi dalam kegiatan sehari-hari yang diyakini akan memberikan kontribusi terhadap pembentukan kecerdasan hidup peserta didik.

Lanjut Baca »

Disusun Oleh : Dr. Rahmat

Materi diskusi pada pelatihan guru dalam menerapkan standar isi dan proses pembelajaran dalam mengimplementasikan KTSP dengan acuan mutu bertaraf internasional



Latar Belakang

Menerapkan standar isi dan proses pembelajaran sebagai bagian dari sistem penyelenggaraan pendidikan telah menjadi pergerakan nasional dan menjadi bagian dari pembicaraan formal setiap hari. Ironisnya pembaharuan terdepan muncul dalam bentuk peningkatan hardware pada tiap sekolah sehingga peningkatan mutu pendidikan telah berdampakpendidikan semakin mahal. Kelas yang ber-AC dan akses internet telah menjadi penanda kemajuan yang kasat mata dan penggunaan bahasa Inggris meningkat tajam yang disertai dengan meningkatnya motivasi guru untuk meningkatkan kompetensinya.

Namun semakin kuat semangat pembaharuan itu, semakin besar kesadaran bahwa target yang diharapkan semakin jauh. Kembali ke jati diri pendidikan, bagaimana kita meningkatkan mutu pembelajaran bertaraf internasional dari standar isi dan proses?

Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.