Selama dua hari tanggal 13 dan 14 Oktober saya mengikuti kegiatan pelatihan calon auditor ISO pada lingkungan Direktorat Pembinaan SMA di Bogor. Saya bersyukur penantian yang lama untuk memahami bagaimana ISO diimplementasikan tercapai juga. Alhamdulillah.
Setelah mengikuti pelatihan saya dapatkan tambahan pengetahuan. Pertama, ISO tidak akan berprakarsa membimbing organisasi mempertajam intuisi untuk membangun inspirasi baru mengenai bagaimana lembaga dan orang-orang meningkatkan mutu. Prakarsa itu harus datang dari kecerdasan lembaga secara internal.
Prakarsa mengembangkan mutu harus tetap berporos pada visi dan pimpinan lembaga yang visioner dan menjadi praktisi yang handal sehingga dapat menerjemahkan visi pada aksi-aksi yang cerdas.
Aksi cerdas itu menurut ISO harus direncanakan, diterapkan, diaudit, dan kalau ada yang berpotensi menyimpang segera lakukan perbaikan.
Dalam menerapkan empat macam prosedur itu diperlukan tim kerja yang pimpin langsung oleh pimpinan lembaga. Di sekolah pasti kepala sekolah. Karena kepala sekolah sering kurang konsentrasi pada mutu, apalagi kalau terancam kena degradasi, maka yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana menjalin komunikasi dan berpartisipasi pada pusat kekuaaan politik, maka dalam lembaga harus ada orang yang pekerjaan sehari-harinya memelihara dan menjaga agar mutu yang direncanakan dapat diwujudkan.
Di bawah wakil manajemen mutu ini definisi mutu dikembangkan, sasaran dan target mutu disusun dan ditulis. Prosedur untuk mewujudkan mutu itu dibuat dan disahkan. Pendeknya semua hal harus ditulis sehingga jadilah kaidah ISO, menuliskan apa yang dikerjakan dan mengerjakan apa yang ditulis.
Sebetulnya, perkara mengadopsi ISO itu mudah. Definisi mutu tinggal mengadopsi dari standar nasional pendidikan. Semua bisa diadopsi. Jika tidak sanggup semua pilih mana yang menjadi prioritas dulu. Yang dapat dilakukan, yang paling berpengaruh pada peningkatan mutu kinerja belajar siswa. Yang paling mungkin memperoleh dukungan biaya, sarana, dan sumber daya manusia.
Buat administrasi untuk mencatat, sebetulnya tidak harus persis sama dengan seluruh kaidah yang ISO terbitkan, asal dapat mencatat apakah prosedur yang telah ditetapkan itu dilaksanakan atau tidak. Jika tidak bisa dikerjakan maka carilah penyebabnya. Lalu perbaiki. Jadi catatan itu membantu agar kita konsisten dan persisten.
Jadi yang paling penting kalau kita mau mengadopsi ISO. Harus konsisten untuk mengubah budaya bicara ke budaya mencatat. Dari budaya percaya ke budaya fakta, ada dokumen sesuai dengan rencana.
Mudah, tapi dukungan budaya data di sekolah harus kita kembangkan dulu. Melalui komitment kita mengubah kultur dengan janji. Saya siap…..saya konsisten, dan kalau mau tahu tidak usah saya katakan, tetapi silakan anda lihat apakah pekerjaan saya memenuhi kriteria yang telah ditetapkan atau tidak.
Menerapkan ISO itu menerapkan kriteria yang kita sepakati bersama. Selamat mencoba dulu, jika punya uang silakan membelinya.
Ulasan yang bagus sekali Pak. Maaf, sedikit koreksi: ISO tidak menerbitkan formulir. Formulir ditetapkan dan dibuat sendiri oleh organisasi implementor.
Salam,
Daniel Primawanto,
ISO 9001 Registered Lead Auditor
Terima kasih Pak Daniel atas koreksinya.