Dr. Rahmat
15 Juli 2008
Dalam Millis SMA Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) terungkap bahwa banyak sekolah menghadapi kesulitan dalam menerapkan sistem kredit semester (SKS) sesuai dengan amanat undang-undang sistem pendidikan nasional. Yang menjadi kendala ialah terbatasnya pemahaman tentang penerapan SKS dalam pengelolaan kurikulum di sekolah.
Dasar
Pendidikan nasional bertujuan untuk memanusiakan manusia Indonesia. Dalam mewujudkan tujuan filosofis itu Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (USPN) No.2 tahun 1989 merumuskan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkankan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia, bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Sejalan dengan perubahan paradigma penyelenggaraan pendidikan rumusan itu disempurnakan pada USPN No. 20 tahun 2003 yaitu pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik.
Pada kedua konsep itu terdapat perbedaan mendasar tentang bagaimana pendidikan harus memperlakukan siswa. Pada undang-undang sebelumnya menunjukan konsep penyelenggara pendidikan sebagai pemeran aktif dalam pembinaan siswa, sedangkan USPN No. 20 tahun 2003 menempatkan siswa sebagai subjek yang ditandai dengan rumusan berkembangnya. Konsekuensi dari itu kewajiban sekolah ialah memfasilitasi peserta didik mengembangkan potensi dirinya melalui kegiatan pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangkan fisik serta psikologis peserta didik sebagaimana diamanatkan pada pasal 19 PP 19 tahun 2005. Konsep ini secara singkat menegaskan bahwa tugas sekolah adalah menciptakan kondisi yang mendukung penyelenggaraan pendidikan, bimbingan dan latihan berjalan efektif.
Perbedaan kata mengembangkan dengan berkembangnya secara ideal dapat mengubah watak sistem pelayanan pendidikan yang berbeda jauh. Pergeseran dari pendidikan yang berpusat pada prakarsa pendidik menjadi berpusat pada prakarsa siswa berdampak pada perubahan strategi perencanaan, pelaksanaan, juga pada evaluasinya. Intinya adalah mengembangkan potensi peserta didik.
Potensi peserta didik bergantung pada dua hal utama, yaitu motivasi dan pengetahuan. Pada motivasi Cofer&Apply (1963:7) meliputi dua penting yaitu regulasi dan penentuan arah dari seluruh dorongan yang muncul dalam diri manusia untuk beraktivitas. Menurut Geen R. (1994) sebagaimana terurai dalam Wikipedia meyatakan bahwa motivasi merujuk pada inisiasi, penentu arah, intensitas dan persistensi prilaku manusia. Motivasi meliputi motivasi internal dan eksternal. Jika dorongan itu datang untuk melakukan suatu perbuatan dari dalam dirinya hal itu termasuk dalam motivasi internal, dan jika suatu perbuatan muncul karena dorongan dari luar dirinya, maka hali itu termasuk dalam kategori motivasi eksternal.
Tinggi rendahnya derajat manusia ditentukan oleh ilmunya. Kesempurnaanya ditentukan oleh kemampuan dalam menguasai dan menerapkannya. Pemahamannya ditunjukan kemampuan berpikir yang tercermin dalam berbicara, menulis, tindakan, sikap, dan hasil karya. Mendemonstrasikan kebolehan dalam kegiatan sehari-hari merupakan unjuk kebolehan kontekstual. Kekayaan pengetahuan, pemahaman, keterampilan menjadi pertunjukan yang integratif sebagai potensi diri yang melekat pada penampilan dirinya secara keseluruhan dalam sikap hidupnya. Melekat dalam kemampuannya untuk menentukan mana yang sebaiknya dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.
Filosofi Belajar Tuntas
Belajar tuntas (Mastery Learning) adalah pendekatan pembelajaran berdasar pandangan filosofis bahwa seluruh peserta didik dapat belajar jika mereka mendapat dukungan kondisi yang tepat. Dalam pelaksanaannya peserta didik memulai belajar dari topik yang sama dan pada waktu yang sama pula. Perlakuan awal belajar terhadap siswa juga sama. Siswa yang tidak dapat menguasai seluruh materi pada topik yang dipelajarinya mendapat pelajaran tambahan sehingga mencapai hasil yang sama dengan kelompoknya. Siswa yang telah tuntas mendapat pengayaan sehingga mereka pun memulai mempelajari topik baru bersama-sama dengan kelompoknya dalam kelas. (http://en.wikipedia. org/wiki/ Mastery_ learning: 2008 )
Konsep dasar yang perlu mendapat perhatian pendidik ialah peta sebaran potensi sebelum siswa mendapat perlakuan belajar. Secara empirik data potensi tersebar normal (John B.Carol, http://www.humboldt.edu/~tha1/ mastery.html:1987. Hal itu mengandung arti bahwa hampir seluruh data berada dalam kurva. Berdasarkan konsep ini maka siswa dikelompokan dalam 3 kelompok yaitu atas, tengah dan bawah. Kelompok atas berarti siswa yang dapat belajar dengan cepat, kelompok tengah siswa rata-rata, dan kelompok bawah adalah siswa yang berkarakter belajar lambat. Seperti dalam distribusi sebaran IQ pengelompokan berdasarkan proporsi antara 26% kelompok atas dan 26% kelompok bawah, dan 68% kelompok tengah pada antara 85 -115. Satu persen dari kelompok atas tergolong siswa yang amat cerdas, dan dua persen dari kelompok bawah siswa yang daya belajarnya sangat lambat (Disso95, http://www.youtube.com)
Menurut hasil penelitian di beberapa negara termasuk Amerika, jika siwa berada pada kondisi yang tepat, mendapat perlakuan belajar yang sesuai dan mendapat waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas belajar, terlihat bahwa 90% siswa dapat mencapai target belajar secara normal (Huitt, W. http://chiron.valdosta.edu/whuitt/col/instruct/mastery.html, 1996). Teori ini menegaskan betapa pentingnya sekolah dikondisikan agar dapat memberi perlakuan belajar dan menyediakan waktu belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Berdasarkan analisis teori di atas ditegaskan pula bahwa tingkat kebutuhan perlakuan dan waktu belajar sengat bergantung pada potensi siswa sehingga sekolah yang efektif memberi perlakuan belajar tidak sama untuk seluruh siswa karena harus disesuaikan dengan tingkat kebutuhan pelayanan.
Terdapat dua faktor utama yang menentukan kecepatan siswa mencapai ketuntasan belajar, pertama adalah kecerdasannya dan kedua motivasinya. Istilah kecerdasan memayungi gambaran makna yang terkandung dalam pikiran yang berhubungan membentuk berbagai kemampuan, kemampuan berargumentasi, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, mengembangkan ide secara utuh dan menyeluruh, serta kemampuan belajar. Kecerdasan juga meliputi kreativitas, kepribadian, karakter, ilmu pengetahuan atau kebijakan (http://en.wikipedia.org/wiki/Intelligence_(trait). Motivasi itu dapat diumpamakan sebagai mesin penggerak. Kalau pada sepeda motor besarnya motivasi itu bergantung pada besar CC pada mesin. Kembali pada potensi siswa, maka semakin besar motivasi dan semakin tinggi kecerdasannya maka semakin besar kemungkinannya siswa itu masuk dalam kelompok atas.
Secara empirik sebaran kecerdasan siswa dalam kelas berada pada kelompok rata-rata. Hal yang fenomenal dalam proses pembelajaran, pendidik memperlakukan siswa dengan perlakuan rata-rata. Konsekuensi dari penyikapan ini sesungguhnya yang pelayanan yang guru lakukan lebih banyak memenuhi kebutuhan siswa rata-rata pula. Oleh karena itu siswa yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi selalu lebih cepat menguasai pengetahuan maupun dalam memecahkan masalah. Akibatnya, siswa kelompok atas selalu harus menunggu teman sekelompoknya selesai menyelesaikan pelajarannya. Jika tidak memperoleh perlakuan dalam masa menunggu itu siswa pandai selalu mencari kesibukan lain. Ada kalanya mereka menjadi pengganggu temannya sehingga bisa jadi karena itu dicap sebagai siswa nakal. Sebaliknya siswa yang paling bawah akan selalu menghadapi kendala ketertinggalan.
Dengan memperhatikan kondisi ini maka dalam pelayanan pendidikan memerlukan pelayanan standar untuk siswa rata-rata, pelayanan pengayaan untuk siswa kelompok atas dan pelayanan perbaikan untuk siswa kelompok bawah. Atas dasar argumentasi inilah maka sistem kredit semester itu diperlukan sebagai solusi agar kecepatan belajar siswa dapat berkembang menurut potensi dirinya. Dengan pelayanan sistem kredit semester (1) seluruh individu dapat belajar sesuai dengan potensinya (2) seluruh individu belajar dengan caranya masing-masing pada tingkat kecepatan yang berbeda (3) dengan pelayanan belajar yang kondusif maka potensi perbedaan karakter tiap individu akan lebih jelas terlihat (4) bias yang tidak terkoreksi akan lebih mudah dipertanggung-jawabkan pada hampir seluruh bentuk kesulitan belajar. (http://www.perry-lake.k12.oh.us/402_LearnFacil/Index_links/what_is_mastery_learning.htm)
Sistem Kredit Semester dan TQM
Selama ini sekolah menyelenggarakan kurikulum dengan pendekatan sistem paket semester. Pada pendekatan ini siswa diperlakukan secara seragam. Memulai program dan menyelesaikan pelajaran pada waktu yang sama. Siswa yang dapat belajar lebih cepat idealnya mendapat pengayaan belajar, namun tidak membuatnya untuk mempercepat penyelesaian pendidikannya. Siswa yang tidak tuntas mendapat remedial, namun sesudah memenuhi batas ketuntasan mereka kembali bergabung pada kelompoknya.
Model pelayanan itu dipandang tidak efektif karena tidak memberikan pelayan optimal terutama terhadap siswa yang memiliki potensi untuk menyelesaikan pelajarannya dengan cepat. Dalam memenuhi harapan untuk memeberikan pelayanan belajar yang dapat memenuhi kebutuhan setiap individu inilah sistem kredit semester diterapkan. Dengan dasar ini pada hakekatnya sistem kredit semester diterapkan untuk memberikan peluang memfasilitasi peserta didik mengembangkan potensi dirinya melalui kegiatan pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 19 PP 19 tahun 2005.
Penerapan SKS merupakan bagian dari penerapkan model manajemen Total Quality Management (TQM). Secara afilosofis model ini fokus pada pemenuhan kebutuhan dan kepuasan pelanggan. TQM telah diadopsi dari sistem lembaga usaha dalam melakukan perubahan. Dari hasil kolaborasi Universitas Washington dengan sekolah negeri di St.Louis munculah konsep Total Quality Schools (TQS) yaitu konsep unik tentang strategi meningkatkan efektivitas sekolah (http://www.crossroad.to/Quotes/TQM.html) dengan mendayagunakan TQM sebagai konsep maupun perangkat pembaharuan. Tujuanya adalah meningkatkan mutu pelayanan sekolah melalui kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan sebagai solusi untuk membantu siswa melalui pengembangan kondisi sekolah sebagai tempat terbaik untuk siswa belajar dan mengembangkan potensinya secara optimal. Sistem kerja sama yang efektif tentu memerlukan perencanaan, pengorganisasian, kendali, pengarah, staf, dan secara keseluruhan membentuk sistem yang visioner.
Beberapa pilar utama dalam pelaksanaan TQS ialah efektifnya kerja sama, semua melayani semua, kepala sekolah, guru, siswa, staf selalu menjaga (1) efisiensi biaya, (2) menerapkan ukuran kualitas produk yang mengacu pada basis kriteria kebutuhan siswa berprestasi (3) menerapkan ukuran dan pembaharuan mutu proses pembelajaran (3) memahami bagaimana pengelolaan input menjadi output dengan selalu berlandaskan kreasi sehingga selalu menghasilkan hasil pekerjaan yang inovatif (4) memahami dengan baik harapan orang tua siswa dan siswa melalui proses kerja sehari-hari.
Untuk mendapatkan mutu output pendidikan terbaik maka sekolah harus membangun kualitas pada tiap pelaksanaan pekerjaan sehari-hari, mendayagunakan guru dan staf sekolah untuk memecahkan tiap masalah dalam peningkatan mutu, melakukan pembaharuan dalam proses pengelolaan (http://www.orgdynamics.com/tqci.html). Sebagai landasan utama dari sistem perubahan ini maka sekolah perlu mengembangkan sumber daya yang lebih cerdas, lebih kompak, dan berkomitmen untuk meningkatkan mutu seluruh tahap pekerjaan secara terencana dan berkelanjutan.
Penerapan SKS
Prinsip dasar penerapan SKS adalah bagaimana sistem pelayanan sekolah dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan siswa dalam mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Memberikan pelayanan belajar kepada siswa melalui penciptaan kondisi sekolah yang dapat memenuhi kebutuhan belajar secara individual sehingga tiap individu menampakan potensinya secara optimal.
Dalam pelaksanaannya pelayanan diberikan kepada tiga kelompok siswa yaitu;
- Pelayanan standar untuk siswa rata-rata.
- Pelayanan akselerasi kepada siwa kelompok atas.
- Pelayanan remedial kepada siswa kelompok bawah.
Pelayanan terhadap siswa rata-rata jika melihat jumlah sebaran secara empirik memerlukan bentuk pelayanan terbesar karena sebagian besar siswa mendapat pelayanan dalam kelompok ini. Oleh karena itu pada kelompok ini sesungguhnya tidak diperlukan sarana yang berbeda jauh daripada sistem penyelenggaraan paket semester. Sistem pengelolaan kelas pun tidak mutlak harus menggunakan sistem moving class. Jumlah ruang kelas dan jam belajar pada pelayanan kelompok rata-rata dapat berjalan seperti dalam penyelenggaraan paket semester sebagaimana sekolah telah melaksanakannya pada saat ini.
Pelayanan plus dalam SKS diperlukan untuk memberikan pelayanan akselerasi kepada siswa kelompok atas. Kelompok siswa ini semestinya dalam sistem ini diberi peluang untuk melakukan kotrak kredit yang lebih banyak. Jika siswa dapat menyelesikan pelajaran lebih cepat, maka siswa diberi pelayanan untuk melanjutkan pelajaran lebih cepat sehingga dapat menyelesaikan studinya lebih cepat daripada siswa rata-rata. Dalam melaksankan model pelayanan ini sekolah memerlukan kesiapan pada :
- Tim pendidik yang melayani program percepatan;
- Membentuk pembimbing akademik yang akan membantu dan memutuskan siapa-siapa saja yang boleh mengambil kredit pada sejumlah tertentu;
- Menyediakan kartu kredit untuk dibawa siswa dalam tiap kegiatan tatap muka;
- Menggantikan sistem rapot ke dalam sistem Kartu Hasil Studi (KHS) yang dapat diisi tiap siswa menyelesaikan kreditnya;
- Ruangan tempat memberikan pelayanan percepatan kepada siswa;
- Tambahan waktu ekstra dalam memberikan pelayanan belajar kepada rombongan kelompok atas dan bawah sehingga bentuk penjadwalan belajar berbeda dari pola sistem paket semester.
- Modul yang dilengkapi dengan materi pelajaran, perangkat latihan kerja siswa, latihan kerja mandiri, perangkat evaluasi ulangan, sampai pada perangkat ulangan umum untuk tiap mata pelajaran;
- Memberikan peluang belajar kepada siswa yang berakselerasi untuk mengikuti kegiatan tatap muka dengan siswa angkatan di atasnya pada mata pelajaran yang sama (misalnya,siswa dari rombongan belajar kelas 10 bergabung belajar dengan rombongan belajar kelas 11);
- Memberikan peluang kepada siswa yang telah menyelesaikan seluruh kreditnya untuk mengikuti ujian akhir.
Substansi pelayanan plus itu pada dasarnya untuk siswa yang memiliki kemampuan belajar cepat dengan kepada siswa yang memiliki kemampuan belajar lambat sama saja. Namun jika kondisi sekolah baik sehingga siswa kolompok lambat dapat dibantu secara optimal, maka prioritas pelayanan yang perlu sekolah sediakan adalah pelayanan percepatan belajar pada kelompok atas.
Dengan demikian bagi sekolah yang akan menyelenggarakan SKS terdapat dua alternatif dalam soal pengaturan jadwal dan ruangan. Pertama tidak menambah ruang yang ada, namun menambah waktu belajar yang tadinya pembelajaran hanya dilaksanakan pagi hari harus berubah menjadi sepanjang hari. Kedua, menambah ruangan sesuai dengan kebutuhan pelayanan yang akseleratif sehingga sekolah tetap dapat memberikan pelayanan pagi, namun sekolah memerlukan ruangan yang lebih banyak.Mengenai mobilisasi belajar dengan sistem movingclass, tampaknya akan menjadi sesuatu yang tidak selalu diperlukan, namun kemungkinan hal itu tidak pada sebagian jadwal tidak terhidarkan.
Untuk mempermudah pemahaman tentang sistem penyelengaraan SKS dapat dilihat pada diagram peta pelayanan di bawah ini.
Diagram pelayanan SKS menunjukan bahwa adanya dua kelompok jenis pelayanan. Pelayanan kepada kelompok tengah, program pelayanan siswa kelompok atas dan bawah. Pada pelayanan kelompok tengah pendekatan relatif tidak berbeda banyak dengan sistem pelayanan paket semester, sedangkan pada pelayanan kelompok atas dan bawah lebih fokus pada pelayanan individu. Dalam hal ini peran konsultan akademik sangat penting untuk menentukan banyaknya kredit yang dapat diambil tiap siswa, menilai boleh atau tidaknya siswa mengambil kredit berikutnya dan mengkoordinasikan dengan pengelola administrasi akademik untuk mencatat tiap perkembangan yang dapat siswa capai. Tugas ini menjadi tugas wali kelas sehingga tugas wali kelas dalam pelaksanaan SKS berbeda dengan yang selama ini berjalan.
Dalam pelaksanaan SKS pengukuran bekal ajar siswa, tingkat pencapaian hasil prestasi sebelumnya, besarnya motivasi untuk menyelesaikan beban pelajaran berikutnya menjadi dasar pertimbangan untuk menentapkan jumlah kredit yang akan diambil berikutnya. Beban belajar diperhitungkan dengan menggunakan jumlah jam pelajaran tiap minggu dan tiap semester dengan sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dengan selalu tersedia modul yang dapat siswa gunakan merupakan bagian penting yang perlu sekolah pertimbangkan. Oleh karena itu dari keseluruhan persiapan yang sekolah lakukan sebelum melaksanakan SKS ialah menyiapkan bahan pelajaran untuk siswa sehingga siswa dapat mengembangkan potensi individunya secara optimal.
Untuk pelaksanaan ini sekolah juga perlu menyusun standar prosedur oprasional pelayanan belajar dengan menggunakan SKS. Hal ini penting untuk menjaga proses pelayanan belajar terjaga mutunya. Dalam penerapan sistem ini kerja sama tim guru harus lebih meningkat terutama kerja sama pada kelompok mata pelajaran sejenis untuk mendorong siswa mendapat peluang menyelesaikan studinya lebih cepat dan lebih optimal bagi siswa yang memiliki potensi untuk melakukannya.
Kesimpulan
Sistem SKS merupakan strategi melaksanakan sistem pelayanan belajar yang memberikan peluang dan tantangan kepada siswa untuk mengembangkan potensi individunya secara optimal dan mengembangkan motivasi siswa untuk berprestasi dalam penguasaan dan penerapan ilmu serta menyelesaikan studinya dengan waktu yang lebih cepat.
Sistem SKS pada prinsipnya merupakan sistem pelayanan yang mengutamakan pemenuhan dan pemuasan siswa yang fokus utama pada kebutuhan tiap individu untuk memanfaatkan potensinya dalam mewujudkan prestasi belajar dengan sistem pelayanan yang lebih menyenangkan dan menantang.
Sistem SKS memerlukan dukungan kerja sama yang lebih kuat dalam meningkatkan efektivitas pelayanan. Dalam hal ini sekolah harus fokus pada upaya menjaga dan meningkatkan mutu melalui penerapan model pembaharuan berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya sekolah memerlukan penerapan model menajemen Total Quality Management(TQM).
Model pelayanan siswa dikelompokan menurut sebaran data normal yang menempatkan siswa dalam kelompok atas, tengah dan bawah. Siswa yang memiliki kecepatan belajar tinggi dapat menuntaskan materi lebih cepat dan mendapat peluang untuk melanjutkan belajarnya pada topik berikutnya secara berkelanjutan tanpa harus menunggu teman sekelompok menyelesaikan program belajarnya terlebih dahulu. sekolah memerikan pelayanan pada kelompok tengah dengan program pengayaannya, dan pada kelompok bawah dengan remedialnya. SKS memberikan peluang belajar kepada seluruh siswa. Untuk itu dibutuhkan sarana dan prasaran yang lebih banyak, memerlukan bahan ajar yang lebih lengkap, dan penggunaan waktu yang lebih banyak pula.
Daftar Bacaan
Cofer & Appley (1963). Motivation: Theory and Research, Willey Estern Limited, New Delhi Bangalor, Bombay Kalkuta.
Disso95. http://www.youtube.com
John B.Carol, http://www.humboldt.edu/~tha1/mastery.html:1987
http://en.wikipedia.org/wiki/Intelligence_(trait)
http://www.perry- lake.k12.oh.us/402_LearnFacil/Index_links/what_is_mastery_learning.htm
http://www.crossroad.to/Quotes/TQM.html
http://www.orgdynamics.com/tqci.htmlPeraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2003
Undang-undang Sistem Pendidikan Nomor 2 Tahun 1989
Undang-undang Sistem Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003.
Wikipedia Encyclopedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Mastery_learning: 2008

Ass. Wr. Wb
Alhamdulilah pak, tulisan pak rahmat bisa membukakan wawasan baru bagi saya tentang sks, dan insya allah akan saya sampaikan juga pada tim yang akan mencoba membuat rumusan baru tentang sebuah keunggulan di sekolah, dan kemarin file ini juga sudah kami sampaikan pada majlis dikdasmen muhammadiyah daerah Gresik.
Dan mohon maaf, saya belum banyak berkiprah pada forum RSBi karena status sekolah saya masih belum RSBI.
saya kok kayak gak pas saja.
Mungkin kalau sudah masuk, insya Allah saya tidak akan pakewuh, walaupun saya sdh kenal sama pak iyek hasan dan pak syamsuddin, tapi saya belum tahu pak Agus yang aktif sebagai moderator itu.
kalau ada komentar tulisan saya di forum itu, saya lebih pas saya balas langsung saja ke email yang bersangkutan, atau chaating.
wassalam
sukari
Terima kasih Pak telah mengunjungi blog saya. Jika memerlukan tulisan lebih lanjut silakan kunjungi juga http://www.gurupembaharu.com
Tulisan bapak memang sangat mendukung untuk mengembangkan peserta didik sesuai dengan tingkat pengasaaan anak tentang materi ajar.
Hanya untuk tahap aplikasi sks di sekolah SDM sekolah mendapatkan banyak kendala untuk dapat melaksanakan, dari faktor guru, pengaturan kurikulum, pembonotan bidang studi dan waktu pelaksanaan.
Untuk itu jika ada bimbingan tehnis pelaksanaan sistem SKS di sekolah sangat kami harapkam
terima kasih
KARDONO
sma 1 wonosari Gunungkidul DIY
081328066240
Pak Kardono, sy minta maaf terlambat membalas tulisan Bapak. Secara sederhana pikiran kita untuk dapat melaksanakan SKS itu sama dengan sistem semester seperti sekarang. Tambahannya adalah bagaimana kita dapat memberikan pelayanan kepada siswa kelompok atas. Yang kita perlukan paling utama adalah modul untuk percepatan belajar, kelompok guru pembimbing untuk kelompok atas, layanan tatap muka untuk kelompok percepatan, namun mereka juga dapat mengikuti kegiatan reguler di kelas yang lebih tinggi, pelayanan ulangan dan menyelesaikan ulangan akhir semester dan kenaikan kelas yang lebih cepat.
Untuk siswa kelompok bawah cukup menyediakan bimbingan agar mereka dapat menuntaskan pelajaran setara dengan kelompok tengah.
Mengenai beban belajar sudah diatur dalam PP 19, jadi tidak terlalu rumit. Cuma kita belum dapat melakukan persiapan yang baik untuk menyediakan perangkat kurikulum yang diperlukan, mungkin kita perlu banyak belajar ke UT, atau mengerahkan guru-guru yang memiliki pengalaman belajar di UT untuk meningkatkan kesiapan sekolah.
Jika Bapak berkenan, silakan kunjungi juga tulisan saya yang lain di alamat http://www.gurupembaharu.com
Terima kasih
Makasih, pak.
semua info dari pak rahmat sangat membantu di lapangan.
untuk SKS, kami semua menunggu petunjuk teknis dari direktorat. Semakin cepat panduan tsb diaplikasi di SMA akan semakin bagus.
bagaimana kita membuat desain pembelajaran, desain penailain dan rpp berbasis SKS? kalau direktorat sendiri tidak juga selesai menyusun.
Kami di SMA N 1 Lasem, 1 kelas mandiri sudah mulai menerapkan perpaduan SKS dengan sistem paket, walaupun pusat belum punya juklak. Sehingga anak mempunyai 2 nilai. Nilai dalam bentuk raport dan nilai dalam bentuk KHS (Kartu Hasil studi). kalau memungkinkan pak rahmat bisa kirim email ke; sman01lasem@yahoo.co..id. sehingga, bisa pak imron kirim ke pak rahmat.
Manfaatnya sangat banyak, karena bapak/ibu guru bisa latihan pendukung SKS.
Jadi, kapan pak panduan SKS-nya jadi?
Imron, S.Pd
Fasilitator rSKM SMAN 1 Lasem Rembang Jateng
telp. (0295) 531170
Ass. Pak Imron,
Terima kasih Bapak berkenan mengunjungi blog ini. Alhamdulillah jika yang saya tulis ada manfaatnya. Selain blog ini saya juga menyimpan tulisan pada web http://www.gurupembaharu.com. Tulisan berikutnya yang lebih teknis tentang penerapan sistem SKS ada di sana, belum dapat saya pindahkan ke blog. Maklum kita punya kesempatannya yang terbatas.Jika bapak berkenan silakan kunjungi alamat di atas.
Mengenai kesiapan Direktorat untuk memberikan panduan itu, mudah-mudahan dapat dilakukannya tahun depan, nunggu anggaran…
Selamat berlebaran Pak, mudah-mudahan kita semua mendapat barokah Allah menjadi orang yang sehat raga dan jiwanya karena bertaqwa dan yang selalu memandang usaha meningkatkan mutu pendidikan pada dasarnya merupakan ibadah kepada Allah.
Terima kasih atas infonya… Blog yg bagus…
Ass…Pak Rahmat
Terima kasih atas semua infonya bpk,semoga ini bisa membuka wawasan kami tentang SKS. Saya sangat mendukung dilaksanakannya SKS di SMA karna untuk siswa ” its great to competition ” . Cuma kami masih awam tentang teknis dilapangan bpk.
Kebetulan sekolah sy sudah masuk SSN/SKM tahun ke dua bpk dan tiap tahun selalu ada program untuk membuat perencanaan sistem moving class dan SKS. Pada tahun 2008 sekolah kami bekerja sama dengan Univ. Negeri untuk memberikan gambaran tentang SKS, akhirnya awal tahun pelajaran 2008/2009 kami mengawalinya dengan mencoba sistem moving class untuk 2 mapel (geografi dan matematika), meski dengan fasilitas yang masih terbatas bpk.
Makasih banyak dan kami menunggu info dan panduan SKS-nya bpk…
Deny S
SMA BAKTI Ponorogo
Jl. Batoro Katong 24 Ponorogo
0352-481374