Dr. Rahmat, M.Pd.
Kecerdasan, Keimanan, dan Martabat
Ada tiga isu strategis dalam pengelolaan sekolah yaitu bagaimana sekolah dapat (1) membentuk watak dan (2) peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka (3) mencerdaskan kehidupan bangsa. Watak seperti apa yang seharusnya menjadi outcomes sehingga melahirkan model kehidupan bangsa yang lebih cerdas? Bagaimana sekolah merealisasikan mimpi sebagai pembentuk watak yang menjadi landasan perkembangan peradaban bangsa?
Realitas itu mengandung konsekuensi lembaga pendidikan perlu merumuskan strategi dalam menghadapi tiga tantangan utama. Pertama, merumuskan visi mengenai watak kecerdasan seperti apa yang menjadi pola hidup yang hendak siswa miliki. Kedua, mengembangkan watak kecerdasan yang mengarah pada pola kehidupan ideal. Ketiga, melatih pengembangan kompetensi dalam kegiatan sehari-hari yang diyakini akan memberikan kontribusi terhadap pembentukan kecerdasan hidup peserta didik.
Banyak sekolah menetapkan visi keimanan dan ketakwaan dan kecerdasan sebagai konsep ideal. Sekolah, dalam hal ini, mememiliki komitmen dan menetapkan prioritas untuk membina ketakwaan itu sebagai prioritas utama. Kesempurnaan hidup siswa ditandai dengan karakter ketaatannya untuk melaksanakan perintah Allah. Karakter utama kedua adalah cerdas. Menurut American Heritage Dictionary, intelligence is The capacity to acquire and apply knowledge. Komitmen kedua adalah mengembangkan kapasitas menguasai dan menerapkan ilmu. Dengan bekal dasar kapasitas penguasaan dan trampil mengaplikasikan ilmu siswa juga akan bertambah kuat imannya sekaligus taat dan trampil melaksanakan ibadahnya sehingga derajat hidupnya akan meningkat. Derajat hidup disebut juga dengan martabat. Oleh karena itu, kita menyatakan bahwa martabat bangsa itu tidak lain adalah meningkatkan kapasitas penguasaan, menerapkan ilmu dan dengan ilmu itu meningkatkan kemaslahatan hidupnya dengan kesempurnaan iman.
Peta Kecerdasan dan Indikator Pembelajaran
Tantangan yang perlu pemecahan lebih lanjut adalah jika kecerdasan itu sebagai kepandaian untuk menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan maka bagaimana dalam pelaksanaannya sekolah dapat mengembangkan hal tersebut secara bertahap dan berkelanjutan. Kemampuan berpikir kritis seperti apa yang harus sekolah kembangkan? Untuk menjawab ini sekolah idealnya memiliki peta konsep dalam pengembangan keterampilan berpikir siswa yang diintegrasikan pada perangkat persiapan pembelajaran guru.
Indikator pembelajaran dalam rencana pelaksanaan pembelajaran idealnya merupakan aplikasi dari strategi komprehensip tentang keterampilan berpikir yang akan dikembangkan dalam enam semester sehingga menjadi gaya hidup yang melekat pada sikap dan keterampilannya dalam menyikapi tantangan kehidupan.
Salah satu strategi penting menghadapi tantang mengembangkan kecerdasan adalah memetakan kompetensi berpikir kritis. Berpikir kritis adalah is the intellectually disciplined process of actively and skillfully conceptualizing, applying, analyzing, synthesizing, and/or evaluating information gathered from, or generated by, observation, experience, reflection, reasoning, or communication, as a guide to belief and action. In its exemplary form, it is based on universal intellectual values that transcend subject matter divisions: clarity, accuracy, precision, consistency, relevance, sound evidence, good reasons, depth, breadth, and fairness. (A statement by Michael Scriven & Richard Paul for the National Council for Excellence in Critical Thinking Instruction, http://www.criticalthinking.org/aboutCT/definingCT.cfm)
Agar konsep itu dapat guru terapkan dalam mengembangkan RPP, maka langkah awal yang harus sekolah lakukan adalah memetakan terlebih dahulu kemampuan berpikir kritis apa yang harus dikuasai siswa pada tiap semester selama tiga tahun. Model ini dapat mengadopsi model pemetaan yang dilakukan Connecticut untuk studi ilmu sosial, (http://ctsocialstudies.org/) seperti contoh berikut:
K-4 CT Standards
Content Standard 1: Historical Thinking
Students will develop historical thinking skills, including chronological thinking and recognizing change over time; contextualizing, comprehending and analyzing historical literature; researching historical sources; understanding the concept of historical causation; understanding competing narratives and interpretation; and constructing narratives and interpretation.
- gather historical data from multiple sources
- engage in reading challenging primary and secondary historical source materials, some of which is contradictory and requires questioning of validity
- describe sources of historical information
- identify the main idea in a source of historical information
- identify ways different cultures record their histories, compare past and present situations and events, and present findings in appropriate oral, written and visual ways
- create timelines which sequence events and peoples, using days, weeks, months, years, decades and centuries
- write short narratives and statements of historical ideas and create other appropriate presentations from investigations of source materials
Content Standard 2: Local, United States, and World History
- Students will use historical thinking skills to develop an understanding of the major historical periods, issues and trends in United States history, world history, and Connecticut and local history.
- • demonstrate a familiarity with peoples, events and places from a broad spectrum of human experience through selected study from historical periods and from the various regions (e.g., East Asia, Europe, the Americas, Africa, South Asia, West Asia)
- locate the events, peoples and places they have studied in time and place (e.g., on a time line and map) relative to their own location
- demonstrate knowledge of major trends in state and local history, including history of original peoples, early settlements and selected changes over the past two centuries
- place the history of their own families in the context of local, state, national and world history
Kita mengetahui pengembangan RPP di sekolah-sekolah hingga saat ini belum berlandaskan peta konsep berpikir sebagaimana yang sebaiknya dilakukan. Perumus RPP masih banyak yang memetik indikator itu dari langit pikirannya sehingga peta kompetensi berpikir siswa tidak dapat dideskripsikan dengan baik. Setelah siswa belajar di dalam satu satuan pendidikan yang belum terpetakan akan menyulitkan mengukur standar.
Assalamualaikum Wr.Wb
saya senang sekali membaca tulisan2 bapak sehingga membuka pola pikir saya akan sistem pembelajaran dan menjadi jalan bagi saya mencari inovasi2 serta kreatifitas saya sebagai guru.