Dr. Rahmat
Update 25 Mei 2008
Dulu, bahasa Indonesia tidak digunakan di kelas-kelas awal Sekolah Dasar. Saya mengggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar sampai kelas 3. Mulai kelas 4 bahasa Indonesia digunakan dalam seluruh proses pembelajaran kecuali dalam bahasa Sunda. Peralihan itu dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia tidak menjadi beban berat karena semua buku yang digunakan dan guru menggunakan bahasa Indonesia. Malahan saat itu semua siswa bangga mengerti bahasa Indonesia karena memahami berita di radio.
Pada saat saya menjadi guru SD tahun 1977 dalam pengajaran baru saja pengajaran di SD mengalami perubahan. Bersamaan dengan munculnya metode pembelajaran Struktur Analitik Sintetik (SAS) pengajaran awal tidak dimulai dengan mengeja. Ini Budi, merupakan pelajaran awal membaca. Seluruh siswa dari kelas awal SD menggunakan bahasa Indonesia. Saya ingat pada saat itu banyak teman guru yang tidak setuju dengan menggunakan bahasa Indonesia sejak awal, namun karena mereka harus tunduk pada kebijakan maka pada akhirnya semua berjalan seperti sesuatu yang biasa. Penerapan metode ini telah berdampak pada percepatan penggunaan bahasa Indonesia di sekolah dasar.
Bagi peserta didik yang berbahasa ibu bahasa daerah, bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris sama asingnya. Bedanya ketika peserta didik menambah kompetensi dalam bahasa Indonesia kultur lingkungan mendukung, sebaliknya ketika siswa hendak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari kultur lingkungan tidak menunjangnya. Inilah yang menjadi masalah utama mengapa sekolah sulit mengembangkan budaya berbahasa Inggris. Masalah ini pula yang sekarang dihadapi sekolah.
Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dari SD sampai ke SLTA dianjurkan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar terutama pada sain dan matematika. Karuan saja bagi sebagian guru hal ini telah menjadi tragedi. Bayangkan saja dari kebiasaan menggunakan bahasa Indonesia bertahun-tahun harus belajar dan mengubah kebiasaan dalam jangka waktu yang singkat menggunakan bahasa Inggris. Bagi sebagian guru jangankan menggunakannya, melafalkan saja duh.. sulit sekali. Sehingga, menjadi guru RSBI ternyata tidak hanya membutuhkan kepandaian, tapi juga keberanian, termasuk berani salah menggunakan bahasa Inggris.
Sebenarnya kalau ditelaah lebih jauh, perubahan pada penggunaan bahasa pengantar pada program RSBI dengan penggunaan bahasa Indonesia bagi peserta didik berbahasa ibu bahasa daerah merupakan model yang sama, namun konteksnya saja yang berbeda. Bahasa Indonesia mudah mencari konteksnya sehingga kompetensi siswa mendapat dukungan kultur sedangkan penggunaan bahasa Inggris tidak memeroleh dukungan kulturnya. Seperti menanam padi idealnya di sawah, ketika bibit padi ditanam di ladang kering, maka bibit tak bisa tumbuh. Yang diperlukan adalah mengubah ladang kering menjadi ladang basah atau menjadikannya sawah sekalian. Model ini sebenarnya termasuk dalam model pembaruan sosial.
Robert J Havighurst dan Bernice L Neuigarten dalam bukunya Society and Education (1966 p. 9) menegaskan bahwa struktur masyarakat merupakan kelompok daripada himpunan orang-orang. Dalam kelompok itu mereka memiliki keyakinan dan kebiasaan, mereka memilikinya selanjutnya tumbuh menjadi budaya. Kultur menurutnya merupakan produk dari proses belajar dan pembiasaan.
Jika pembaruan penggunaan bahasa Inggris merupakan model pembaharuan yang tidak menemukan konteksnya di sekolah maka yang menjadi persoalan utamanya adalah bagaimana kultur pembiasaan penggunaan bahasa Inggris dibangun di sekolah. Tentu hal ini tidak mudah sebab banyak sekolah yang mengalami kegagalan untuk membangun kultur itu melalui kegiatan pembelajaran. Selama ini pembelajaran formal bahasa Inggris di SMP maupun di SMA tidak menunjukan hasil sebagaimana yang diharapkan.
Belajar dari pengalaman peralihan penggunaan bahasa daerah ke bahasa Indonesia terdapat beberapa komponen kultur yang disiapkan;
- Tersedia buku dan sejumlah bacaan dalam bahasa yang akan digunakan.
- Tersedia guru yang menjadi pengguna;
- Dikembangkan kebiasaan menggunakan dari waktu ke waktu sehingga pada waktu tertentu siswa tidak punya pilihan lain selain menjadi pengguna bahasa itu.
- Tersedia fasilitas penunjang seperti berita di radio, televisi, koran;
- Bahasa itu digunakan setiap saat sehingga taman sebayanya menjadi kelompok belajar.
- Terdapat ruang tertentu yang memaksa orang tidak menggunakan bahasa lain.
- Penggunaan tidak hanya pada ruang lingkup sekolah, namun di luar sekolah.
Memperhatikan pengalaman itu, maka yang perlu sekolah kembangkan adalah peluang siswa untuk mengembangkan kebiasaan menggunakan bahasa Inggris melalui pengembangan kegiatan tidak hanya dalam kegiatan belajar namun dalam seluruh aspek kehidupan di sekolah dengan memperbanyak bahan bacaan, menyediaan guru pemandu, menggunakan dalam kegiatan yang nyata, sewaktu-waktu menyediakan kegiatan yang membuat siswa tidak punya pilihan lain kecuali menggunakan bahasa Inggir, menyediakan audio visual, menyediakan teknologi informasi di komunikasi yang dapat siswa gunakan setiap saat, dan memberikan tugas-tugas lain di luar tugas dalam kegiatan di kelas.
Bentuk kegiatan yang dikembangkan adalah kegiatan pertemuan rutin dalam bahasa Inggris, diskusi, seminar, workshop, memberikan tugas-tugas yang difasilitasi oudio visual, rapat, penerbitan media, pertemuan dengan native speaker, dan diskusi dengan orang-orang asing. Hal terakhir ini sangat baik jika orang asing yang didatangkan belum bisa berbahasa Indonesia sehigga siswa tidak memiliki pilihan lain kecuali menggunakan bahasa Inggris.
Untuk mendukung pengembangan budaya itu memang sebaiknya Kepala Sekolah sekurang-kurangnya memilik komitmen untuk membangun budaya semacam itu, lebih baik jika dapat berkomunikasi dengan siswa. Karena mengembangkan pembaharuan di sekolah selain membutuhkan ruangan, sarana, prasarana, perhatian, dana, juga keteladanan. Hal yang terakhir itu lebih baik baik, satu contoh lebih baik daripada seribu harus. Dengan demikian menambah bahasa pengantar sesungguhnya tidak perlu jadi beban jika kultur sekolah mendukungnya, membangun kebiasaan dan keyakinan “kita pasti bisa !”.
Yth. Bpk Dr. Rahmat
Assalamu’alaiku wr wb.
Saya Widodo dari SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, selaku pengelola web, apabila diperkenankan kami akan mempublikasikan beberapa tulisan Bapak pada web kami.
Trimakasih sebelumnya.
Wasalamu’alikum wr wb.
Waalaikum salam wr.wb, terima kasih atas kunjungan Bapak, jika Bapak akan mempubliksikan tulisan dari sini silakan dan mohon pula mencantumkan sumber. Jika Bapak perlu silakan lihat pula tulisan berikutnya pada situs gurupembaharu.com, di sana sedikit lebih lengkap. Terima kasih.
saya setuju dengan tulisan bapak, tetapi ada sedikit bahkan sedikit ini adalah ganjalan yang pasti,
di era globalisasi yang menghebohkan kita perlu kita siapkan karakter anak bangsa dengan AKAR BUDAYA bangsa yang berawal dari adat dan budaya daerah.
saya tergolong guru yang BINGUNG dengan konsep RSBI
RSBI berarti Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional atau
RINTISAN SEKOLAH BERBAHASA INGGRIS, karena pemahaman sebagian guru dengan kita menggunakan bahasa inggris sebagai pengantar pembelajaran maka kita sudah siap go internasional….apa betul begitu
Konsep RSBI meliputi kurikulum globlal. tetapi sebagai filter dasar pemerintah menerbitkan Permendiknas tentang standar isi, dan selanjutnya KTSP mengamanatkan sekolah untuk membuat kurikulumnya sendiri.
kenyataannya siswa RSBI atau SBI harus ikut UNAS yang standarnya masih nasional dan adakalanya mereka memiliki kesialan harus tidak lulus. tterus ke internasionalannya dimana ?
Akar budaya yang kurang kuat dan pemaksaan bahsa inggris sebagai pengantar , membuat siswa lebih suka ber “inggrisria” dari pada menggunakan bahasa daerah. kemudian hasil akhir bangsa kita menjadi bangsa maju yang kehilangan akar budaya daerah karena anak bangsanya dicokok dengan budaya(bahasa) asing yang notabenenya jauh dari akar budaya bangsa. BANGSA INDONESIA MENJADI TAMU DI NEGERI SENDIRI
Murid saya disuruh bahasa jawa susah, bahasa indonesia yang baik dan benar juga bingung, malah disuruh berbahasa inggris…..
ass.wr.wb.
bapak ….ajeng ingin mencoba membangun kultur berbahasa inggris di smp 4 …mhn dukungan dan bimbingannya ya pak…?haturnuhun.