Perkembangan global berdampak langsung pada aktivitas banyak siswa di dalam kelas melalui berbagai media komunikasi. Siswa menjadi bagian dari perubahan. Mereka seharusnya mendapatkan nilai tambah dari keterlibatannya. Perkembangan imajinasinya menggglobal karena aktivitasnya terkait media komunikasi dan perangkat hiburan yang mendunia.
Atas dasar itu pendidikan bertaraf internasional sebenarnya sebuah keniscayaan. Isu yang mengikat para siswa pada dimensi global ini tidak hanya soal bahasa dan teknologi, mereka juga tidak dapat melepaskan diri dari soal lingkungan hidup dan pemanasan global, kelangkaan pangan dunia, dan harga minyak yang telah menggoyahkan stabilitas ekonomi negara. Semuanya itu seharusnya langsung berpengaruh pada topik-topik pembicaraan antara siswa dan guru di dalam kelas.
Pada kondisi dinamis ini, sekolah harus melakukan peningkatan standar pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pembiayaan, serta pengelolaan manajemen sekolah dan penyelenggaraan pembelajaran yang lebih efektif sehingga dapat berfungsi sebagai sumber kekuatan kompetitif ekonomi bangsa di masa depan.
Yang harus sekolah wujudkan adalah meningkatkan kualitas pencapaian tujuan pendidikan yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab; dan memiliki daya saing pada taraf internasional.
Terwujudnya lulusan SMA yang memiliki kompetensi seperti yang tercantum di dalam standar kompetensi lulusan, diperkaya dengan standar kompetensi lulusan berciri internasional melalui pengembangan kebiasaan-kebiasaan baru dalam melaksanakan proses pendidikan dan pengajaran, yang mencapai tujuan seperti di bawah ini :
- Meningkatnya keimanan dan ketaqwaan; serta berakhlak mulia.
- Meningkatnya kesehatan jasmani dan rohani.
- Meningkatnya lulusan dengan standar yang lebih tinggi daripada standar kompetensi lulusan nasional.
- Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
- Termutivasinya siswa belajar mandiri, berpikir kritis, kreatif, dan inovatif.
- Meningkatnya kemampuan siswa memecahkan masalah secara efektif.
- Meningkatnya penguasaan siswa dalam penggunaan bahasa Indonesia
- Meningkatnya penguasaan siswa dalam penggunaan bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya secara efektif.
- Menguatnya kejujuran, objektivitas, dan tanggung jawab.
- Meningkatnya daya saing siswa untuk melanjutkan pendidikan pada lembaga pendidikan bertaraf internasional.
- Bertambahnya perolehan siswa mendapatkan sertifikasi atau piala tingkat internasional seperti Test of English as a Foreign Language (TOEFL), Test of English for International Comunication (TOEIC), OLYMPIAD.
- Lulusan bekerja pada lembaga bertaraf internasional.
Hal yang menjadi tantangan untuk melahirkan karakteristik siswa seperti itu, sekolah sewajarnya meningkatkan pengelolaan lembaga agar memiliki standar, yang secara bertahap dikembangkan untuk memenuhi persyaratan seperti yang dipersyaratkan :
- Lembaga penjamin akuntabilitas manajemen bertaraf internasional seperti dari International Organization for Standardization (ISO) 9001-2000 atau International Workshop Agreement (IWA) 2.2007 atau Council of International Schools (CIS) sebagai lembaga akreditasi sekolah internasional.
- European Council Of International Schools (ECIS) atau NETS (National Educational Technology Standards) dari USA, Teaching English as a Foreign Language (TEFL) yang mengakreditasi kompetensi guru bertaraf internasional.
- Penggunaan Teknologi Informasi dalam kegiatan pembelajaran (ISO/IEC 19796-1) yang baru diperkenalkan oleh ISO pada tahun 2007.
Dalam konteks membangun kesiapan sekolah dalam meningkatkan standar-standar itu, yang diperlukan saat ini adalah memahami apa yang akan distandarkan, persyaratan apa yang harus dipenuhi, dan bagaimana menerapkan standar itu dalam sistem pengelolaan sekolah sehari-hari. Setelah itu barulah berpikir bagaimana sekolah memperoleh sertifikat penjaminan. Sekarang mari kita mulai. Lakukan hal-hal baru dan jangan berharap mendapatkan pembaharuan dengan mempertahankan kebiasaan lama di sekolah.
Go .. Go .. RSBI di Indonesia …
But harus real dan hasil kerja keras dan menghasilkan mutu yang “keras”. Jangan dipaksakan, dimanipulasi apalagi di mark up … nanti hasilnya Blong ………..