Pekerja profesional pada lembaga profesional
Pengembangan profesi dalam perkembangan terakhir merupakan bagian strategis dalam meningkatkan daya adaptasi lembaga untuk dapat bertahan hidup dan meningkatkan daya kompetisi dalam tingkat persaingan semakin ketat. Pemikiran ini menempatkan kepentingannya semakin meningkat setelah diyakini bahwa sumber daya manusia sebagai sumber daya utama dan terutama dalam mengembangkan daya adaptasi organisasi. Masalah lain yang tidak kalah penting adalah perubah akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat yang telah berdampak pada perubahan dalam berbagai bidang pekerjaan. Perubahan yang sangat cepat dalam era teknologi informasi telah berdampak pada bertambahnya jenis-jenis pekerjaan baru terutama di negara maju yang tidak selalu terantisipasi oleh lembaga pendidikan.
Itulah sebabnya pengembangan profesi perlu memerlukan pengembangan secara sitemik dan bersifat antisipatif, melibatkan seluruh unsur personal maupun kelembagaan untuk selalu terlibat dalam proses pembaharuan. Hal ini penting untuk mengintegrasikan kinerja individu yang ditingkatkan dalam rangka mempercepat tujuan kelembagaan. Dengan demikian pengembangan kemampuan profesi tidak hanya mengenai individu-individu, namun namun seharusanya berkembang pada wilayah kelompok. Itu berarti interaksi antar individu dalam kelompok harus menjadi wilayah pengembangan sehingga berdampak pada membangun tim kerja yang solid yang dilandasi dengan nilai-nilai profesi serta pada tataran puncaknya adalah lembaga yang bekerja secara profesional, yang mampu mengintegrasikan seluruh sumber daya secara efektif dan efisien.
Skenario pengembangan profesi secara kelembagaan ini amat penting untuk dipahami mengingat daya tahan organisasi seperti sekolah untuk berkembang dalam kompetisi yang sangat ketat ke depan sangat bergantung pada kapasitas setiap orang dalam melakukan pekerjaannya dengan menghasilkan produk pekerjaan yang bermutu seperti yang diharapkan organisasi.; baik secara sendiri-sendiri maupun tim. Sukses dalam melaksanakan tugas itu menurut Agyris (1999) dapat dirumuskan pada rumusan harapan seperti di bawah ini;
§ jika setiap individu mengetahui benar spesifikasi tugasnya;
§ jika mereka terampil menyelesaikan pekerjaan dan menghasilkan seperti yang diharapkan;
§ jika mereka menghasilkan seperti yang diharapkan;
§ jika mereka menggunakan waktu secara efisien
§ jika mereka menyelesaikan pekerjaan sesuai standar.
Konsep implementasi seperti itu dapat mendorong terjadinya peningkatan atau pengembangan profesi secara berkelanjutan. Dalam mendorong agar proses itu dapat berjalan secara terarah selanjutnya sangat memerlukan rumus tujuan kinerja secara organisasi dengan jelas. Tujuan ini pasti berkaitan dengan visi dan tujuan khusus dalam pengembangan sumber daya manusia. Pengembangan kemampuan profesi harus berdasarkan prioritas dengan fokus yang jelas, demikian menurut Lashway (2001), namun secara umum dinyatakannya bahwa upaya pengembangan harus mengarah pada meningkatnya rasa kepemilikan terhadap lembaga; meningkatkan dukungan kinerja guru dalam kelas, meningkatkan kemampuan guru menguasai materi pelajaran; menguasai metode mengajar; dan dengan itu kinerja belajar siswa menjadi meningkat sehingga sekurang-kurangnya mencapai target minimun yang sekolah telah tetapkan.
Kinerja guru yang profesional dalam seperti itu hanya dapat berjalan apabila konsep pengembangan itu didukung dengan konsep lembaga. Perencanaan yang jelas serta indikator-indikator pencapaiannya merupakan landasan untuk menetapkan standar. Oleh karena itu, proses kinerja profesional memerlukan dukungan organisasi seperti yang dijelaskan Jarvis (1980) :
Mendapat dukungan organisasi agar setiap orang dapat bekerja sepanjang waktu yang diperlukan untuk menghasilkan kinerja yang baik.
§ Mendapat penanganan pelatihan secara berkelanjutan, jika diperlukan bekerja sama dengan perguruan tinggi atau pihak lain yang berkompeten.
§ Mendapat dukungan organisasi profesi untuk meningkatkan :
§ Kesadaran diri untuk mendefinisikan inti pekerjaan yang ditangani.
§ Kesadaran untuk membangun wawasan internasional dalam pelaksanaan tugas-tugas teknis.
§ Daya kompetisi dengan lembaga pesaing di sekitarnya, utama dalam hal ini adalah mengembangkan kompetensi yang eklusif.
§ Mendapat dukungan legal dari pemerintah atau lembaga yang berkewenangan; dalam bentuk lisensi dan sertifikasi.
Dalam era persaingan yang selalu memerlukan daya inovasi ini pemikiran Argyris menekankan perlunya membangun organisasi pembelajar. Ini berarti dalam setiap langkah interaktif sehari-hari di sekolah harus didisain sebagai sebuah proses untuk meningkatkan kapasitas kompetensi dalam meningkatkan daya saing sekolah dengan indikator secara umum, seperti yang diungkapkan Rivai dan Ahmad Fauzi (2004) yaitu;
§ Motivasi kineja;
§ Dampak kinerja pada hasil (dalam hal ini kinerja belajar siswa)
§ Berpikir strategis;
§ Berpikir kreatif
§ Berpikir realistis;
§ Berpikir tepat;
§ Berpikir ihlas;
§ Meningkatkan efektivitas hubungan pribadi;
§ Meningkatkan efektivitas komunikasi,
§ Meningkatkan kompetensi untuk mengatasi perubahan;
§ Meningkatkan kompetensi untuk merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pekerjaan.
Dengan demikian pengembangan profesi memerlukan rancang bangun yang jelas yang dikembangkan lembaga. Prioritas pengembangan merupakan penjabaran dari visi dan misi sekolah untuk mendukung strategi utama sekolah dalam meningkatkan kinerja belajar siswa. Dalam setiap ada harapan peningkatan mutu pelayanan selalu memerlukan peran dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia pelaksananya.